Menuju Perubahan Hidup Pasca Berlaga di HWC 2014

0
621

InfoBandung,-

Tim Nasional Street Soccer Indonesia yang baru saja berlaga di pentas Homeless World Cup (HWC) 2014 di Santiago, Chile 19-26 Oktober lalu telah kembali ke Indonesia. Membawa pulang piala runner up Ejercito de Chile Cup atau setara dengan peringkat 10 dari 42 negara peserta merupakan satu penghasilan yang patut diberikan apresiasi.

Meskipun pada tahun ini secara peringkat mengalami penurunan, setidaknya dua pemain asal Indonesia mendapatkan penghargaan dari event sepakbola yang dikhususkan untuk orang-orang yang termarjinalkan ini.

Kapten tim Swananda Pradika mendapatkan gelar pemain terbaik HWC 2014. Kestabilan performa Swananda di lapangan dan tingkah lakunya diluar lapangan membuat pria asal Nusa Tenggara Barat ini dianugerahi “Best Player”.

Selain itu, penjaga gawang Indonesia, Midjuli santoso juga mendapatkan penghargaan dari wasit FIFA, Harry Millas atas prestasi dan performanya menjaga gawang timnas merah putih. Midjuli mendapatkan peluit khusus yang secara rutin diberikan oleh Harry Millas setiap tahunnya kepada penjaga gawang terbaik.

Prestasi-prestasi tersebut mungkin hanyalah sebuah penghargaan simbolis dalam suatu event olahraga. Penghargaan yang diberikan atas segala jerit payah atau prestasi individu yang dilakukan seorang pemain dalam membawa timnya ke puncak prestasi tertinggi. Namun bukan itulah yang sebetulnya dicari oleh para peserta HWC 2014 ini. Berakhirnya kompetisi adalah awal dari dimulainya babak baru dari kehidupan mereka masing-masing.

“Sekarang pekerjaan rumah yang menunggu mereka. Mereka pulang ke daerah mereka dan mereka akan melakukan apa nanti ? Semoga setelah mengikuti HWC mereka akan menjadi lebih baik lagi nanti,” ujar Ginan Koesmayadi, salah satu pendiri Rumah Cemara sebagai National Organizer HWC di Indonesia di kantor HWC pada acara syukuran dan temu media Timnas Homeless Worldcup 2014, Jumat (31/10/2014).

Berdasarkan tujuan awal dari Homeless World Cup ini adalah menjadikan sepakbola sebagai wadah untuk menjadikan seseorang menjadi lebih baik. HWC menggunakan sepakbola agar pecandu, pengidap HIV, kaum marjinal dapat memiliki kegiatan positif, berolahraga serta dapat berinteraksi dengan masyarakat.

Perubahan ke arah yang lebih baik juga menjadi tujuan para pemain timnas Indonesia di HWC 2014 ini. Mulai dari keinginan menjadi pemain Futsal professional, bermain di Liga Sepakbola Indonesia, sampai menjadi PNS menjadi satu dari sekian banyak harapan mereka.

Midjuli Santoso, penjaga gawang asal Bali ini berharap dirinya bisa terlepas dari Narkoba dan mencari pekerjaan baru.

“Saya ingin cari pekerjaan lagi. Sudah dua bulan perusahaan saya yang kemarin bangkrut. Saya suka olahraga, jadi selain bekerja saya akan menghabiskan waktu untuk fitness atau bermain bola. Jadi saya gak keluyuran lagi dan menggunakan narkoba lagi,” ujarnya.

Pemain lain, bertekad untuk terus melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah sembari bermain bola. Dia adalah Akhmad Fauzi dari DKI Jakarta.

Tiga pemain lain memeiliki harapan yang sama, yaitu bisa bergabung dengan salah satu tim peserta Liga Futsal Indonesia. Mereka adalah Tommi Hartono dan Rijal Saepuloh dari Jawa Barat serta Tommy Engelberth dari Papua. Bahkan berkat prestasi timnas Indonesia di HWC 2014 ini, Tommy mendapatkan tawaran menjadi PNS di daerahnya.

“Tujuan utama, saya ingin main di Liga Futsal Indonesia. Mudah-mudahan ada tim yang tertarik untuk merekrut saya. Dan semoga nanti setelah pulang ini bisa kerja, ada tawaran PNS di Papua,” ujar Tommy.

Sedangkan Yudi Ramanda yang merupakan mantan pemain sepakbola professional berposisi striker dan pernah membela PSDS Deli Serdang, PSMS Medan, Semen Padang dan Persikota Tangerang ini berharap ada tim Profesional di Indonesia yang bersedia memakai jasanya.

“Saya ingin bisa tetap bermain bola. Saya ingin main lagi, kalau ga Divisi Utama, ya Divisi 1 lah. Dan berharap tetap clean (bersih dari narkoba) karena baru 7 bulan lepas dari narkoba. Dan semoga sampai Medan saya bisa diterima istri saya lagi,” ungkapnya.

Secercah harapan juga menghampiri kapten tim Swananda Pradika. Dengan prestasi sebagai pemain terbaik dia berharap dapat mendapatkan pekerjaan.

“Saya ingin bekerja. Dan berita saya menjadi pemain terbaik di HWC sudah sampai ke Lombok. Teman-teman saya disana mendapatkan kabar jika gubernur NTB akan menemui saya,” ucapnya.

Harapan-harapan mereka untuk membawa perubahan hidup ke arah yang lebih baik tentunya bukanlah sebuah isapan jempol belaka. Banyaknya dukungan dari lingkungan mereka dapat menjadi spirit khusus untuk mereka menemukan “jalan perubahan”.

Melalui sepakbola inilah, mereka mengharapkan perubahan hidup. Sebagai insan manusia sudah selayaknya kita memberikan semangat kepada mereka. Orang-orang yang pernah jatuh harus diberi semangat, diberi kesempatan agar bisa bangkit dan berdiri lagi. Dan yang pasti, mereka, kaum dari kelompok termarjinalkan ini sudah mengharumkan nama Indonesia di HWC 2014.

Berakhirnya kompetisi maka mereka akan memulai babak awal pada pertandingan yang sebenarnya di kehidupan mereka masing-masing. Tim dibubarkan untuk tetap hidup dan menikmati hidup.

Respect sebesar-besarnya untuk Rumah Cemara..!! (ILhamnoor)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here