EDUfa Autism Theraphy Center Akan Melaksanakan Penelitian Untuk Terapi Anak dengan Spektrum Autism

0
1482

Infobandung – Berdasarkan data yang diperoleh dari UNESCO, terdapat 35 juta penyandang autisme di seluruh dunia. Lebih lanjut UNESCO menyebutkan bahwa 1 dari 150 anak yang lahir menyandang autisme. Di Indonesia diperkirakan terdapat 112.000 penyandang autisme dengan rentang usia sekitar 5-19 tahun. Dengan semakin meningkatnya angka penyandang autisme, muncul pertanyaan tentang bagaimana cara mendeteksi dan penanganan pada gangguan autisme.

Agar dapat membantu orang tua mengenali gejala autisme, berbagai usaha penyebaran informasi untuk meningkatkan kepedulian terhadap autisme mulai dilakukan. Salah satunya dengan memberikan edukasi kepada orang tua mengenai karakteristik utama dan gejala autisme melalui media sosial. Gejala autisme yang mudah terlihat oleh orang tua di antaranya: tidak merespon saat namanya dipanggil, tidak dapat mengatakan apa yang diinginkan, kurangnya kontak mata, adanya keterlambatan bahasa, tidak mengikuti instruksi, seperti berada di dunianya sendiri, dan sulit berbaur dengan teman sebaya, serta memiliki minat yang sangat terbatas dan berpola khusus sehingga jika tidak dilakukan anak akan tantrum atau mengamuk. Apabila anak menunjukkan beberapa gejala tersebut, sebaiknya orang tua segera menemui ahli (dokter syaraf anak dan psikolog) untuk kemudian melakukan diagnosis yang lebih lengkap.

Oleh karena spektrum gangguan autisme sangat luas dan bervariasi, seringkali terjadi ‘tumpang tindih’ dengan diagnosa dari gangguan lain, misalnya ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) dan retardasi mental. Diagnosis yang tepat sangat dibutuhkan untuk kemudian menentukan intervensi apa yang tepat untuk anak dengan gangguan autisme. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan dan hambatan mereka dalam belajar berbeda dengan gangguan lain, oleh karena itu sangat dibutuhkan metode intervensi yang khusus.

Sekitar 40 tahun yang lalu, seorang pakar psikologi bernama Prof. Ivar Lovaas berhasil menerapkan suatu metode intervensi yang menggabungkan ilmu psikologi dan ilmu pedagogik yang dibuat secara khusus untuk anak dengan gangguan autisme dengan segala kebutuhannya. Metode tersebut dikenal sebagai metode Applied Behavior Analysis (ABA). Tujuan metode intervensi ini adalah membantu anak dengan gangguan autisme mencapai tahap perkembangan sesuai usianya. Metode ini akan sangat efektif bagi anak jika diberikan saat masih berusia dini dan adanya keterlibatan orang tua secara intens.

Metode intervensi ini sudah diuji ulang oleh beberapa ahli di seluruh dunia. Hasilnya menunjukan bahwa metode ABA merupakan metode yang paling efektif dan signifikan untuk meningkatkan kemampuan intelegensi, komunikasi, bantu diri, serta interaksi sosial anak dengan gangguan autisme. Negara Canada, Inggris dan Amerika Serikat sudah menjadikan metode ABA sebagai acuan dan merekomendasikan metode ABA sebagai metode intervensi untuk anak dengan gangguan autisme. Akan tetapi, di Indonesia metode ABA belum banyak direkomendasikan pemerintah, kalangan profesi medis, psikolog bahkan pedagog sebagai metode intervensi utama untuk anak dengan gangguan autisme.

Sebagai data awal telah ditemukan bahwa beberapa lembaga pendidikan di Bandung, Bekasi, Surabaya, Balikpapan dan Sukabumi yang menyediakan pendidikan untuk anak dengan gangguan autisme, hampir semuanya tidak langsung merekomendasikan metode intervensi ABA kepada anak yang terdiagnosa autisme. Berbagai alasan muncul seperti metode ABA merupakan metode intervensi yang mahal, kaku, dan membuat anak seperti robot.

Berdasarkan faktor-faktor di atas, EDUfa Autism Therapy Centre mencoba melakukan penelitian mengenai efektivitas metode terapi ABA dan terapi bermain bagi anak-anak dengan gangguan autisme melalui pelayanan terapi gratis bagi anak-anak usia 3-4 tahun selama 1 tahun, yaitu mulai dari bulan Maret 2016 hingga bulan Maret 2017. “Kami ingin memberikan harapan dan bantuan bagi para orang tua, bahwa intervensi dini yang tepat sangat mungkin membantu anak dengan gangguan autisme untuk berkembang sesuai dengan usianya. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model bantuan penanganan anak dengan autisme sehingga mereka dapat berkembang seperti anak pada umumnya sesuai dengan usia perkembangannya.” Ujar ketua Yayasan Edufa Autism Theraphy Centre, Ernie C. Siregar, S.Psi, M.Pd, Psikolog.

Tujuan utama penelitian ini adalah membantu orang tua untuk mendeteksi sedini mungkin gejala autisme dan bagaimana penanganan yang tepat. Adapun tujuan tersebut akan lebih mudah tercapai dengan bantuan dari teman-teman media. Saya mewakili Edufa Autism Therapy Center akan sangat mengapresiasi bantuan teman-teman untuk menyiarkan informasi mengenai gejala gangguan autisme, metode terapi ABA yang sudah terbukti signifikan sebagai intervensi dini dan rencana penelitian yang telah disebutkan di atas.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai autisme ini, silahkan follow Edufa Autism Therapy Centre di halaman facebook atau hubungi kepala Yayasan Edufa Autism Therapy Centre,     Ernie C. Siregar, S.Psi, M.Pd, Psikolog di 082117914849. Selain itu, informasi pendaftaran untuk penelitian bisa diakses melalui facebook page Edufa. Kami tunggu kabar baik dari teman-teman media. J

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here