Membuka Jendela Dunia di Microlibrary Bandung

1
756

InfoBandung,-

Buku adalah ‘jendela dunia’. Guru semasa sekolah selalu mengingatkan tentang hal ini. Zaman boleh saja semakin maju, tetapi buku tidak pernah berubah. Bukan soal romantisme ‘aroma’ khas buku. Tetapi isi, nilai, ilmu pengetahuan dan dampak positif dari buku itu sendiri.  Berkat itulah para pemuda Karang Taruna Jl. Bima, Kel. Arjuna, Kec.Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia mengawali program Gerobak Baca dibantu Rukun Warga setempat. Gerakan gotong-royong literasi ini bergerak sekitar tahun 2013.  Misinya, meningkatkan minat baca warga Kelurahan Arjuna, terutama generasi muda dan anak-anak.

“(Awalnya) Dulu tiap hari Senin sampe Jum’at, berkeliling dengan bawa beberapa buku milik pribadi keliling kompleks. Terus Minggu bikin lapak di tempat Microlibrary berdiri sekarang” sahut Rafdi Almatasalis. Gayung bersambut, animo dan antusiasme warga begitut tinggi. Para Pemuda itu membuat perizinan pembangunan perpustakaan umum. Ketika izin diusulkan, momennya tepat bersamaan sedang diadakan lomba Kampung Juara Pemkot Bandung.

Arsitektur Bangunan Microlibrary terbagi menjadi dua lantai. Lantai satu bagi warga yang ingin berkegiatan dan lantai dua menjadi perpustkaan. Uniknya, bangunan ini menyabet prestasi dalam ajang arsitektur internasional karna memanfaatkan 2000 buah ember es krim berpola kode biner. Jika warga Bandung berkesempatan main kesini, cobalah pindai melalui ponsel pintar maka sebuah pesan muncul” Buku adalah Jendela Dunia”. Desain ini digagas Gubernur Ridwan Kamil kala menjabat sebagai walikota di tahun 2015 Pemkot Bandung bersama Indonesian Diospora, Dompet Dhuafa Pusat, dan tim SHAU Architecure & Urbanism.

Sebagai salah satu prototipe serangkaian taman bacaan, Microlibrary di Taman Bima memiliki daya tarik tersendiri. Seni gaya bangunannya adalah buah karya tim arsitektur SHAU Architect Bandung,  yang  telah menorehkan prestasi dalam public vote dan jury award di Architizer A+ Awards tahun 2017 untuk kategori Arsitektur Komunitas.

“Dinamakan microlibrary karna ini perpus kecil, tetapi muatan edukasi nya (ilmu) besar,” ujar Rafdi selaku pendamping program Microlibrary dari perwakilan Dompet Dhuafa Jawa Barat.

Tidak semua buku tentang pendidikan yang tersedia disini. Berbagai jenis buka turut ada, mulai dari buku sastra, buku dongeng, Novel, sejarah, biografi, kesenian, buku cerita anak-anak, buku keagamaan, buku kesehatan, buku ilmu pengetahuan alam sampai komik cukup lengkap. “Pilihannya sangat banyak disini, berbagai jenis buku ada. Biar anak-anak atau masyarakat yang kesini tidak jenuh,” ujar Rafdi ketika ditemui  di Taman Bima, lokasi Microlibrary.

Selain sisi edukasi minat baca warga meningkat, warga kelurahan Arjuna akhirnya memiliki fasilitas ruang untuk berbagi, bercerita, dan berkegiatan kreatif. Salah satunya, program ‘Bandung Bercerita’ yang banyak melibatkan anak-anak selain beberapa kegiatan positif lainnya seperti kelas tari, melukis, mendongeng, kesenian dan seterusnya.

Rafdi menambahkan, “Rencananya di tahun 2019 ini akan dibuat lagi (microlibrary) di 11 titik Kelurahan terpilih di kota Bandung,” Tahun lalu, peletakan batu pertama titik Microlibrary selanjutnya sudah dilakukan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di bawah flyeover Kiaracondong.

Siapa saja boleh membaca atau pinjam buku disini, enggak pake ribet. Enggak dipungut biaya dan khusus bagi siswa sekolah hanya butuh kartu pelajar, sedangkan warga umum cukup punya ktp. Bagaimana kalau buku yang dipinjam hilang? Jangan khawatir, cukup dengan menggantinya dengan judul buku yang sama ketika meminjam.

Warga Bandung tertarik untuk berkunjung? Kalau kesini, bawa buku bekas juga ya untuk disumbangkan.

Salam literasi.

Penulis: Franco Londah
Foto: Franco Londah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here